Selamat Datang Di Blog Laut Kita

Penulis akan sangat berterima kasih jika pembaca bisa berkomentar tentang tulisan ini. Silahkan berikan masukan, kritikan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan tulisan ini.

Fish

Minggu, 09 Januari 2011

Pengaruh Global Warming Terhadap Ikan Pelagis

I.     PENDUHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kita tahu bahwa laut di permukaan bumi ini menempati sebagian besar permukaan bumi, ini menampakkan betapa pentingnya laut bagi keseimbangan kehidupan di bumi. Seperti yang dipaparkan oleh Prager dan Earle, 2000 dalam Dahuri R., 2003, Secara global laut meliputi dua pertiga dari permukaan bumi dan menyediakan sekitar 97% dari keseluruhan ruang kehidupan di bumi, dan laut telah membentuk dan mendukung keberadaan serta kehidupan umat manusia di bumi sejak munculnya mahluk hidup pertama dari laut.
Geografi Indonesia sebagai negara maritim bukan hanya memberikan makna yang besar bagi penduduknya, namun juga berperan penting dalam dimensi kepentingan global. Sisi lain dari kekayaan hayati dan nirhayati yang besar adalah bahwa lautan Indonesia memegang peranan penting dalam pengaturan sistim cuaca dan iklim  dunia  terutama sejak issue global warming diungkap, (Harsono, G.,2010).
Di Indonesia sumberdaya ikan pelagis kecil diduga merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang paling melimpah dan paling banyak ditangkap untuk dijadikan konsumsi masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan, sedangkan ikan pelagis besar seperti tuna merupakan sebagian besar produk unggulan ekspor di Indonesia. Ikan pelagis kecil umumnya hidup di daerah neritik dan membentuk schooling juga berfungsi sebagai konsumen antara dalam food chain (antara produsen dengan ikan-ikan besar), (Suyedi R., 2001).
Dengan karakter  oseanografinya negara Indonesia yang sangat dinamis ini, perairan ini menjadi subur dengan kelimpahan hayati yang cukup tinggi. Melimpahnya kekayaan hayati ini bahkan menurut Harsono, G.,2010 menjadi daya tarik bagi para nelayan asing untuk mencari ikan pelagis bernilai ekonomi tinggi seperti tuna, cakalang, tongkol, tenggiri dan setuhuk.
1.2  Perumusan masalah
Dari fakta-fakta yang diuraikan sebelumnya maka diperoleh batasan masalah yaitu “Apakah pemanasan global (global warming) dapat mempengaruhi  ikan pelagis di wilayah lautan Indonesia “.
1.3  Tujuan
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk membahas pengaruh pemanasan global (global warming) terhadap ikan pelagis di lautan Indonesia.

II.    TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pemanasan Global
Pemanasan global (Global Warming) adalah meningkatnya jumlah emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer yang akhirnya menyebabkan meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi. Berubahnya komposisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer, dimana konsentrasi gas rumah kaca tersebut menurut mbojo.wordpress.com/2008 meningkat secara global akibat kegiatan manusia dan menyebabkan sinar matahari yang dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa, sebagian besar terperangkap di dalam bumi akibat terhambat oleh GRK tadi.
Proses terjadinya pemanasan global seperti yang dijelaskan oleh mbojo.wordpress.com/2008, bahwa sinar matahari yang tidak terserap permukaan bumi akan dipantulkan kembali dari permukaan bumi ke angkasa. Setelah dipantulkan kembali berubah menjadi gelombang panjang yang berupa energi panas. Namun sebagian dari energi panas tersebut tidak dapat menembus kembali atau lolos keluar ke angkasa, karena lapisan gas-gas atmosfer sudah terganggu komposisinya. Akibatnya energi panas yang seharusnya lepas keangkasa (stratosfer) menjadi terpancar kembali ke permukaan bumi (troposfer) atau adanya energi panas tambahan kembali lagi ke bumi dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga lebih dari dari kondisi normal, inilah efek rumah kaca berlebihan karena komposisi lapisan gas rumah kaca di atmosfer terganggu, akibatnya memicu naiknya suhu rata-rata dipermukaan bumi maka terjadilah pemanasan global. Karena suhu adalah salah satu parameter dari iklim dengan begitu berpengaruh pada iklim bumi, terjadilah perubahan iklim secara global.
Gas Rumah Kaca (GRK) seperti CO2 (Karbon dioksida),CH4(Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) and SF6 (Sulphur hexafluoride) yang berada di atmosfer dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia terutama yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batubara) seperti pada pembangkitan tenaga listrik, kendaraan bermotor, AC, komputer, memasak. Selain itu GRK juga dihasilkan dari pembakaran dan penggundulan hutan serta aktivitas pertanian dan peternakan. GRK yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, seperti karbondioksida, metana, dan nitroksida, menyebabkan meningkatnya konsentrasi GRK di atmosfer (mbojo.wordpress.com/2008).
Energi dari matahari memacu cuaca dan iklim bumi serta memanasi permukaan bumi; sebaliknya bumi mengembalikan energi tersebut ke angkasa. Gas rumah kaca pada atomsfer (uap air, karbondioksida dan gas lainnya) menyaring sejumlah energi yang dipancarkan, menahan panas seperti rumah kaca. Tanpa efek rumah kaca natural ini maka suhu akan lebih rendah dari yang ada sekarang dan kehidupan seperti yang ada sekarang tidak mungkin ada. Jadi gas rumah kaca menyebabkan suhu udara di permukaan bumi menjadi lebih nyaman sekitar 60°F/15°C, (Anonymous, 2002).
2.2  Sumberdaya Ikan Pelagis
Sumberdaya ikan merupakan sumberdaya yang dapat pulih (renewable resources) dan berdasarkan habitatnya di laut secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu jenis ikan pelagis dan ikan demersal. Ikan pelagis adalah kelompok ikan yang berada pada lapisan permukaan hingga kolom air dan mempunyai ciri khas utama, yaitu dalam beraktivitas selalu membentuk gerombolan (schooling) dan melakukan migrasi untuk berbagai kebutuhan hidupnya. Sedangkan ikan demersal adalah ikan-ikan yang berada pada lapisan yang lebih dalam hingga dasar perairan, dimana umumnya hidup secara soliter dalam lingkungan spesiesnya, (Nelwan A.,2004).
Ikan pelagis berdasarkan ukurannya dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu ikan pelagis besar, misalnya jenis ikan tuna, cakalang, tongkol, dan lain-lain, serta ikan pelagis kecil, misalnya ikan layang, teri, kembung, dan lain-lain. Penggolongan ini lebih dimaksudkan untuk memudahkan dalam pemanfaatan dan pengelolaan, karena karakter aktivitas yang berbeda kedua kelompok jenis ikan tersebut, (Nelwan A.,2004).
Menurut Fauziya et al., (2010), school atau kawanan merupakan struktur paling penting dalam kehidupan beberapa populasi ikan pelagis. Untuk alasan tersebut maka ikan pelagis tidak dapat hidup sendiri contohnya ikan sardine, namun manusia memanfaatkan schooling untuk menangkap ikan pelagis (contoh alat tangkap trawl dan purse seine) dalam jumlah yang banyak karena ikan dalam kondisi berkelompok nilai kepadatannya akan berbeda dibandingkan jika dalam kondisi scatter atau terpencar. Pembentukan kelompok pada ikan dipengaruhi oleh tingkah laku migrasi ikan dalam kolom perairan sehingga tujuan pengelolaan dan pendugaan stok ikan secara praktis, informasi mengenai karakteristik migrasi sangatlah penting.
Zona potensi ikan ditentukan dengan kombinasi data/peta sebaran suhu permukaan laut, kandungan klorofil, pola arus laut, cuaca, serta karakter toleransi biologis ikan terhadap suhu air. Dari hasil pengamatan secara multitemporal dapat diketahui bahwa sebaran suhu permukaan laut di wilayah perairan laut Indonesia berubah dengan cepat (Hasyim B., 2004).
2.1.1 Sumberdaya ikan pelagis kecil
Ikan pelagis kecil hidup pada daerah pantai yang relatif kondisi lingkungannya tidak stabil menjadikan kepadatan ikan juga berfluktuasi dan cenderung muda mendapat tekanan akibat kegiatan pemanfaatan, karena daerah pantai mudah dijangkau oleh aktivitas manusia. Jenis ikan pelagis kecil yang dimaksudkan adalah ikan layang, kembung, tembang, teri, dan lain-lain.
Sumberdaya ikan pelagis kecil diduga merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang paling melimpah di perairan Indonesia dan mempunyai potensi sebesar 3,2 juta (Widodo et al,  1998 dalam Nelwan A., 2004). Sumberdaya ini merupakan sumberdaya neritik, karena terutama penyebarannya adalah di perairan dekat pantai, di daerah-daerah dimana terjadi proses penaikan air (upwelling) dan sumberdaya ini dapat membentuk biomassa yang sangat besar (Csirke, 1988 dalam Nelwan A., 2004).
Penyebaran ikan pelagis kecil di Indonesia merata di seluruh perairan, namun ada beberapa yang dijadikan sentra daerah penyebaran seperti Lemuru (Sardinella Longiceps) banyak tertangkap di Selat Bali, Layang (Decapterus spp) di Selat Bali, Makassar, Ambon dan Laut Jawa, Kembung Lelaki (Rastrelinger kanagurta) di Selat Malaka dan Kalimantan, Kembung Perempuan (Rastrelinger neglectus) di Sumatera Barat, Tapanuli dan Kalimantan Barat, (Suyedi R., 2001).
2.1.2 Sumberdaya ikan pelagis besar
Ikan pelagis besar hidup pada laut lepas dengan kondisi lingkungan relatif  stabil, disamping itu ikan pelagis besar umumnya melakukan migrasi sepanjang tahun dengan jarak jauh. Secara biologis kelompok cakalang, tuna, dan tongkol termasuk kedalam kategori ikan yang mempunyai tingkah laku melakukan migrasi dengan jarak jauh (highly migratory species) melampaui batas-batas yuridiksi suatu negara. Keadaan tersebut akan menyebabkan penambahan dan pengurangan stok di suatu perairan yang berperan penting dalam sediaan lokal pada saat terjadi musim penangkapan (Nelwan A., 2004).
Ikan Pelagis besar menyebar di perairan yang relatif dalam, bersalinitas tinggi, kecuali ikan tongkol yang sifatnya lebih kosmopolitan dapat hidup di perairan yang relatif dangkal dan bersalinitas lebih rendah. Sifat epipelagis dan oseanis menjadikan penyebaran sumberdaya ikan pelagis besar secara vertikal sangat dipengaruhi lapisan thermoklin yang juga adalah struktur lapisan massa air yang terbentuk akibat perbedaan suhu. Demikian pula penyebaran secara horizontal yang dipengaruhi oleh faktor perbedaan suhu dan juga ketersediaan makanan, (Nelwan A., 2004).
 
III.             PEMBAHASAN
Pemanasan global telah banyak mempengaruhi kehidupan mahluk hidup yang ada didunia ini, baik kehidupan yang ada di daratan maupun kehidupan yang ada di lautan, begitu juga dengan ikan pelagis. Riberu P., (2002) mengatakan populasi yang hidup pada suatu habitat dalam lingkungan, dapat memenuhi kebutuhannya karena lingkungan mempunyai kemampuan untuk mendukung kelangsungan hidupnya. Kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan populasi disebut daya dukung (carrying capacity). Daya dukung lingkungan tersebut merupakan sumber daya alam lingkungan. Sementara itu kemampuan lingkungan mempunyai batas, sehingga apabila keadaan lingkungan berubah maka daya dukung lingkungan juga berubah. Hal ini karena daya dukung lingkungan dipengaruhi oleh faktor pembatas, seperti: cuaca, iklim, pembakaran, banjir, gempa, dan kegiatan manusia.
Ikan pelagis juga termasuk ikan yang selalu melakukan migrasi, baik migrasi untuk mencari makan (feeding migration) maupun migrasi untuk tujuan memijah (spawning ground). Ikan pelagis dalam melakukan migrasi selalu mencari suhu yang dapat ditolerir dengan kehidupannya. Ini berarti bahwa ketersediaan (stok) ikan pelagis memang dibatasi oleh suhu. Bahri, T. and P. Freon, (2000) dalam Fauziya et al., (2010) menjelaskan bahwa pembentukan schooling ikan umumnya dipengaruhi oleh  stimuli atau rangsangan dari luar seperti menghindari predator atau mencari lingkungan yang sesuai dan stimuli internal seperti memijah, mencari makanan dan sifat/tingkah laku ikan tersebut.
Menurut Hasyim B., (2004), keadaan lingkungan perairan akan menentukan keberadaan suatu organisme di dalam lingkungan tersebut, dimana setiap kelompok organisme mempunyai kesenangan/toleransi yang berbeda-beda. Misalnya suhu optimal untuk Yellow fin adalah 20-28° C, Albacore 14-22° C, Cakalang 26-29° C, Blue fin tuna 10-28° C dan Big eye tuna 17-23° C. Demikian pula pada daerah upwelling dimana produktifitas primernya cukup tinggi, sering didapatkan kelimpahan kelompok ikan yang lebih tinggi daripada daerah lainnya.
Kisaran suhu antara 28,1 - 29,10 C diduga sebagai batas toleransi ikan pelagis dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Pada umumnya ikan-ikan akan memilih perairan dengan nilai suhu tertentu untuk dapat hidup dengan baik. Hal ini berkaitan erat dengan pergerakan ikan ( Fauziya et al., 2010).
 Dari data satelit NOAA, contoh jenis ikan yang hidup pada suhu optimum 20-30°C adalah jenis ikan ikan pelagis. Karena keberadaan beberapa ikan pelagis pada suatu perairan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor oseanografi. Faktor oseanografis yang dominan adalah suhu perairan. Hal ini dsebabkan karena pada umumnya setiap spesies ikan akan memilih suhu yang sesuai dengan lingkungannya untuk makan, memijah dan aktivitas lainnya. Seperti misalnya di daerah barat Sumatera, musim ikan cakalang di Perairan Siberut puncaknya pada musim timur dimana SPL 24-26°C, Perairan Sipora 25-27°C, Perairan Pagai Selatan 21-23°C (Ayanfirdaus.wordpress.com).
Keberadaan ikan pelagis juga akan terancam apabila makanannya berkurang seperti yang dikatakan oleh Dahuri R., (2003) hilangnya spesies tertentu akan mengakibatkan spesies lain yang menjadi predatornya ikut mengalami kepunahan, hal ini terkait dengan sistem rantai makanan di perairan laut.
Indra, (2010) menceritakan, konsep Lotka Volterra (Lotka ahli fisika dari Amerika dan Volterra ahli matematika dari Italia)  pernah diterapkan pada perikanan di Italia setelah Perang Dunia II.  Ketika itu masyarakat Itali ramai-ramai menangkap ikan pelagis kecil yang ada di sekitar perairan pesisir.  Karena input atau effort yang cukup tinggi, sehingga lama-kelamaan terjadi tangkap lebih (overfishing) dan degradasi sumber daya ikan di tempat tersebut.  Setelah setahun kemudian, ternyata hasil tangkapan pelagis besar dari laut lepas mengalami penurunan secara signifikan.  Setelah diteliti diketahui bahwa ada hubungan rantai makanan antara pelagis kecil yang ada di perairan pesisir dan pelagis besar yang ada di laut lepas.  Karena ketersediaan pelagis kecil (sebagai prey) telah terdegradasi akibat overfishing, maka ikan pelagis besar (sebagai predator) kekurangan makan, sehingga mereka pindah (migrasi) ke tempat lainnya yang masih tersedia cukup makanan.
  
IV.      KESIMPULAN
Setelah dilakukan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa kenaikan suhu permukaan laut yang diakibatkan oleh pemanasan global (global warming) dapat mempengaruhi secara fisiologis karena mempunyai kemampuan toleransi suhu  tertentu yang dominan antara 200 – 300 C dan juga dapat mempengaruhi kehidupan ikan pelagis terkait dengan rantai makanan.


DAFTAR PUSTAKA
Dahuri R., 2003. Keanekaragaman Hayati Laut; Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta.
Fauziyah et al., 2010. Densitas Schooling Ikan Pelagis pada Musim Timur Menggunakan Metode Hidroakustik di Perairan Selat Bangka ; Jurnal Penelitian Sains Volume 13 Nomer 2(D) 13210
Harsono G., 2010 Prakarsa  Strategi “Rumpon Belt” Dan Implikasinya Terhadap  Pertahanan Wilayah Laut  Indonesia; http://buletinlitbang. dephan.go.id/index.asp?vnomor=22&mnorutisi=9 diunduh Nopember 2010.
Hasyim B. 2004. Penerapan Informasi Zona Potensi Penangkapan Ikan (Zppi) Untuk Mendukung Usaha Peningkatan Produksi Dan Efisiensi Operasi Penangkapan Ikan; Makalah pribadi; Pengantar ke Falsafah Sains (PPS702); Sekolah Pasca Sarjana / S3 Institut Pertanian Bogor.
Indra 2010, Interaksi Mangrove dan Sumber Daya Ikan
Irwanto, 2006., Keanekaragaman Fauna Pada Habitat Mangrove. Yogyakarta
Nelwan A., 2004  Pengembangan Kawasan Perairan Menjadi Daerah Penangkapan Ikan; Makalah Pribadi Falsafah Sains (PPS 702) Sekolah Pasca Sarjana / S3 Institut Pertanian Bogor.
Riberu P. 2002 Pembelajaran Ekologi Jurnal Pendidikan Penabur - No.01 / Th.I Pascasarjana UNJ, Jakarta.
Surakusumah W., Perubahan Iklim Dan Pengaruhnya Terhadap Keanekaragaman Hayati; Makalah Perubahan Lingkungan Global ; Jurusan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia.
Suyedi R., 2001 Sumber Daya Ikan Pelagis Makalah Falsafah Sains (PPs 702)   Program Pasca Sarjana / S3 Institut Pertanian Bogor.
http://mbojo.wordpress.com/2008/07/17/hubungan-efek-rumah-kaca-pemanasan-global-dan-perubahan-iklim/Hubungan Efek Rumah Kaca, Pemanasan Global dan Perubahan Iklim, Nopember 2010.


Ayanfirdaus.wordpress.com/ Pengaruh Suhu Dan Salinitas Terhadap Keberadaan Ikan ;A. Ardiyana Blog. Diunduh tgl 23-12-2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar